MEMBUMIKAN KALIMAH BISMILLAHIRRAKHMAN NIRRAKHIM
Sudah lama saya tidak mengisi blog saya, Alhamdulillah pada pagi hari yang dingin, ketika saya membuka emailku, saya menemukan sebuah email yang dikirim oleh temanku yang sedang holiday di Jerman yang sedang menengok putranya yang tinggal disana. Menurut saya artikel ini bagus sekali untuk di postingkan di blogku karena artikel ini sangat bagus dan sangat bermangpaat untukku dan tentunya untuk pembaca juga,..Terima kasih Mbak Inung, semoga menikmati holiday yang menyenangkan dengan putra dan cucu mbak……
Assalamualaikum warakhmatullahi wabarakatuh
Saudara2 muslimin dan muslimat rahimakumullah, sejak kita mengikrarkan diri dengan mengucap dua kalimah syahadah atau ketika kita menyadari bahwa kita sebagai seorang muslim/muslimah, maka secara otomatis mau dan tidak mau telah terpikul dipundak kita :
BALLIGHU `ANNI WALAU AYAH yang artinya Sampaikanlah dari KU (Allah) walau hanya satu ayat (saja).
Oleh karena itu pada kesempatan ini saya mengajak Saudara saudaraku para muslimin & muslimah untuk menyampaikan/mendakwahkan satu ayat yang bermula dari ayat yang paling pendek dan yang paling mudah kita hafal dan ucapkan, juga ayat yang mungkin pertama kali kita dengar dari orang2 tua kita, ketika kita masih balita contohnya saja BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM yang artinya seperti telah kita ketahui bersama adalah Dengan Nama Allah yang maha pemurah lagi yang maha penyayang..
Tentunya bukan merupakan ayat yang sulit di ucapkan Namun sesungguhnya bukan seringan itu yang ingin saya sampaikan, tetapi terlebih adalah MEMBUMIKAN kalimah bismillahirrakhmanirrakhim dimulai dari diri kita sendiri, saudara kita, anak2 kita, tetangga kita, teman2 kita dst.
Saudara Saudaraku rakhimakumullah, kalimat MEMBUMIKAN saya maksudkan adalah dengan membiasakan sambil mengajak yang lain. Sehingga menjadi suatu keharusan yang terus menerus bahwa setiap aktifitas kita mulai dengan mengucap bismillahirrakhman nirrakhim.
Sebetulnya bila dirinci secara detail kalimat tersebut terdiri atas : BI ISMI ALLAHI ARRAKHMANI ARRAKHIMI, BI artinya dengan, ISMI artinya Nama, ALLAHI artinya ALLAH/Robb/PEMELIHARA, ARRAKHMANI ARRAKHIMI artinya yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Mengapa muncul artian YANG…….& ….LAGI, karena ke dua kata tersebut dari susunan Na´tun dan manút, sedang kita tahu …..YANG secara tersendiri adalah dari alladzi.
Mengapa kalimah bismillahirrahmanirrahim yang demikian sederhana ini yang kita bumikan ?, sebuah hadist shoheh sebagai pijakan kami yang berbunyi :
KULLU AMRINDHIBALIN; LAYUBDA U FIHI; BIBISMILLAHIRRAKHMANIR
RAHIM; A´THO´U ! artinya tiap2 perbuatan/perkara/hal yang tidak dimulai dengan kalimah bismillahirrakhmanirrakhim, PUTUSLAH! Atau KANDASLAH ! atau PERCUMALAH ! sia-sia saja, maksudnya tidak akan ada pahalanya.
Oleh karena itu Saudara2ku, disini pentingnya MEMBUMIKAN kalimah tersebut. Kita selalu mengawali dengan bacaan Bismillahirrakhmanirrakhim yang kita ucapkan bukan saja billisan ( dengan lisan ) namun lebih penting diucapkan biqalbi (dengan hati yg dalam) dengan mencermati arti kata bismillah tersebut, syukur2 billisan wa bilqolbi…..subhanallah.
Misalnya ketika kita memakai baju niat mau kerja ucapkan bismillah……, keluar rumah, bismillah……dst, naik kendaraan, bismillah….dst, masuki ruang kerja kantor, bismillah…dst, mulai membuka komputer, bismillah…..dst….dst…dst…sehingga seluruh tingkah polah aktifitas kita semata krn nama Allah, insyaallah kalimat yang kelihatan sepele diucapkan dan dihayati dengan hati yang paling dalam menjadi sebuah ibadah juga pagar penangkis dari perbuatan2 yang kurang terpuji baik yang kita sengaja maupun yang tidak kita sengaja, insyaallah.
Coba kita sejenak bayangkan, bila setiap bibir & hati bersama sama melafal Bismillahirrakhmanirrakhin pada setiap akan mengawali aktifitas, dilakukan oleh setiap muslim di dunia ini, niscaya gaung kalimah tersebut tidak akan pernah putus dari waktu ke waktu, jam ke jam, menit ke menit……..subhanallah niscaya dunia ini dipenuhi gaung lafal tersebut, insyaallah dunia ini akan terjauh dari bencana, amin.
Ini baru 1 (satu) ayat saudara saudaraku, belum kalimah2 thayyibah lainnya, sehingga mulut & qolbu kita terkunci dari mengucap kalimah yang tidak berguna, dari percakapan yang bisa menimbulkan salah persepsi bahkan fitnah. Bagaimana mungkin akan timbul bencana akibat mulut & hati kita yang hanya kita tujukan kepada kalimah2 thayyibah? sedang kita ingat salah satu ayat di Al Quràn berbunyi : gunung2, angin & laut, serta pepohonan tunduk dan ber tasbih kepadaNYA (Allah), bagaimana dengan manusianya ? yang menjadi makhluk ciptaan Allah SWT paling sempurna.
Saudara2ku rakhimakumullah, marilah kita amalkan walau hanya 1 (satu) ayat.
Billahi taufiq wal hidayat.
Kassel, jerman, 04 Juni 2009
Nurul Choliq
PERTANYAAN AWAL DALAM KUBUR
Bismillahirakhmanirrakhim
Assalamualaikum warakhmatullahi wabarakatuh
Saudara2 kaum muslimin & muslimah rakhimakumullah, sering kita mendengar ceramah dari guru-guru kita atau orang yang lebih tua dari kita bahwa : ketika kita meninggal dunia, ruh kita ditanya oleh 2 malaikat yakni Malaikat Mungkar dan Nakir, dengan pertanyaan-pertanyaan yang khas yaitu MAN ROBBUKA (siapa Tuhanmu?), apa agamamu….dll.
Saudara2ku, yang akan saya sampaikan ini, apabila salah, kesalahan itu adalah kesalahan saya, semoga Allah taála mengampuni, namun kebenaran adalh milik Allah semata, subhanallah.
Dalam Buku Hadist Miàh, dengan hadistnya yang shoheh Rasulullah SAW bersabda :
ITTAKUL BAULA; FAINNAHU AWWALUMA YUKHASSABU BIHIL ÁBDU FIL KUBRI
Yang terjemahannya : ITTAKU = takutlah kalian ( inifiil Amar, mengandung arti LAH atau tanda seru (!), AL BAULA = air seni /kencing, FA = maka, INNAHU = sesungguhnya (kencing itu), AWWALU = paling awal, MA = apa2/perkara/hal yang, YUKHASSABU = dkhisabkan/dipertanggung jawabkan, BIHI = dengannya/atas , AL ABDU = seorang hamba/manusia, FI = didalam, ALKUBRI = kubur.
Artinya : TAKUTLAH KALIAN KEPADA AIR SENI/KENCING; KARENA SESUNGGUHNYA AIR SENI ITU ADALAH HAL/PERKARA YANG PALING AWAL DI HISABKAN KEPADA SEORANG HAMBA/MANUSIA DI DALAM KUBUR:
Hadist tersebut menerangkan bahwa :
- bukan air seni yang mengerikan wujudnya tetapi sifat dan cara membuang senilah yang harus kita waspadai agar percikannya tidak menjadikan batal atau tidak sah-nya sebuah ibadah.
- cara membuang seni ada adabnya : misalnya jongkok, atau berdiri tetapi mencari posisi sehingga air seni tidak banya memericikan (nyiprat) kemana-mana
- setelah selesai buang air seni sebelum istinjak/cebok, hendaknya berdeham, sehingga tetesan air seni terakhirlah yang keluar, ini khusus untuk kaum lelaki, krn secara biologis memang berbeda ujudnya dari pada wanita.
- melakukan istinjak sebagaimana tuntunan rasulullah, jaman dulu dengan batu, bila tidak ada air, sekarang dengan air, bila tidak ada air dengan tissue sampai kesekian kali dst. dst
mari kita secara sederhana melihat kelakuan benda cair bila sendang menetes, kita buat percobaan dengan air dan kaca cermin, bila kita teteskan air dengan jaran jaruh 20 cm diatas cermin yang datar, setiap tetes yang jatuh, akan ada pantulan tetesan yang lebih kecil lagi yang jatuh dan seterus, sampai membentuk radius yang luas, baru steril dari air percobaan tadi.
Bagaimana bila itu air seni kita ????? seteliti itukah kita dalam merawat najis kita ? bagaimana bila ada tetesan itu mengenai pakaian orang lain yang mengakibatkan tidak sucinya pakaian orang lain yang digunakan untuk sholat dst….dst.
Sudahkah kita ber ijtihat untuk steril dari najis kita, sehingga ibadah2 kita juga 100% di terima kesuciannya oleh sang Khaliq ? sampai tiba pertanyaan pertama dalam kubur kita …?
Saudara2 Muslimin dan muslimat rakhimakumullah, mari kita mulai dari saat ini dari diri kita untuk menyelamatkan atau menjawab pertanyaan pertama dalam kubur, kemudian sampaikan kepada yang lain para karib, shohib, ahlul bait dan kawan2.
Namun bukan berarti kita tidak akan ditanyakan siapa Tuhan kita dan selanjutnya……..semua akan berjalan sesuai ketentuan & kehendak Allah SWT.
Billahi taufiq wal Hidayah
Fastabiqul kheirot.
Kassel, Jerman 5 Juni 2009